Padang, 25 Maret 2025 – Tradisi Pulang Basamo kembali mencatat angka fantastis tahun ini. Sebanyak 250 bus mengangkut sekitar 12.500 perantau Minang dari Jabodetabek ke kampung halaman mereka di Sumatera Barat. Selain itu, ribuan perantau lainnya pulang menggunakan transportasi yang dikelola oleh organisasi perantau tingkat Nagari, IKM, PKS, dan ormas lainnya.
Dari 22 hingga 29 Maret 2025, lonjakan perantau menyebabkan transportasi umum ke Sumatera Barat penuh sesak. Bus reguler yang biasanya menjual tiket perjalanan harus menutup penjualan karena semua kursi telah terisi. Begitu pula dengan penerbangan ke Padang, di mana 14 penerbangan per hari tak mampu menampung permintaan. Selain itu, jumlah perantau yang menggunakan mobil pribadi diperkirakan jauh lebih banyak dibandingkan pengguna transportasi umum.
Perantau Minang, Pendorong Ekonomi Sumbar
Diperkirakan sekitar 1 juta perantau dari Pulau Jawa pulang ke Sumbar tahun ini. Jika satu perantau menghabiskan minimal Rp 3 juta, maka arus uang dari perantau asal Jawa saja mencapai Rp 3 triliun. Jika digabungkan dengan perantau dari daerah lain di Indonesia serta perantau luar negeri, jumlah ini bisa mencapai Rp 10 triliun lebih per tahun—angka yang bahkan melebihi APBD Sumatera Barat.
Dana perantau ini mengalir melalui berbagai bentuk kontribusi, seperti:
- Pulang Lebaran, meningkatkan perputaran ekonomi lokal
- Kiriman zakat dan infaq ke kampung halaman
- Kurban Idul Adha untuk masyarakat
- Sumbangan sosial, baik untuk pembangunan masjid, madrasah, maupun bantuan anak yatim
- Dukungan pendidikan bagi anak berprestasi dan kurang mampu
- Bantuan korban bencana serta sumbangan lainnya
Sayangnya, Pemda Dinilai Kurang Siap
Meskipun perantau memberikan kontribusi besar bagi ekonomi Sumbar, sayangnya, pemerintah daerah dianggap belum maksimal dalam menyambut mereka. Banyak perantau mengeluhkan berbagai masalah selama di kampung halaman, antara lain:
- Parkir mahal bagi kendaraan berpelat luar, lebih mahal dari harga 2 kg beras
- Oknum petugas lalu lintas yang mencari-cari kesalahan kendaraan luar daerah
- Harga kuliner dan oleh-oleh yang tidak mencantumkan label harga jelas
- Agen liar di terminal yang memeras perantau saat hendak kembali ke rantau
- Objek wisata dengan tarif tak wajar dan pungutan liar
- Banyaknya peminta sumbangan di jalan raya, menghambat lalu lintas
- Jalan rusak di berbagai daerah, mulai dari jalan provinsi, kabupaten, hingga antar-kecamatan
Dengan kondisi ini, banyak perantau merasa kenyamanan mereka selama di kampung halaman tidak diperhatikan. Padahal, keberadaan mereka sangat membantu pergerakan ekonomi daerah.
Harapan untuk Pemda dan Aparat
Banyak pihak berharap Pemerintah Daerah dan aparat terkait segera berbenah dalam menyambut perantau yang setiap tahun datang dalam jumlah besar. Diperlukan perbaikan fasilitas umum, peningkatan keamanan, serta regulasi yang lebih transparan dalam pengelolaan tarif dan layanan bagi perantau.
Jika Pemda bisa memberikan kenyamanan bagi para perantau, bukan tidak mungkin potensi ekonomi yang dibawa pulang oleh mereka bisa lebih dimaksimalkan untuk pembangunan daerah. Pulang Basamo bukan hanya tradisi, tetapi juga peluang besar bagi Sumatera Barat.